Jumat, 04 Januari 2013

Posted by Unknown On 1/04/2013 01:43:00 AM


   Sebuah ketakutan masyarakat global mulai terjadi dalam periode yang sangat lama ketika identitas kebangsaan mulai tergerus oleh eksistensi kebudayaan asing dalam negerinya sendiri. Fenomena yang unik dan sangat menarik. Peperangan abad 21 sekarang tidak lagi bergerak pada sebuah aktivitas fisik antar negara. Perlombaan senjata dan peperangan langsung tidak lagi menjadi jaminan untuk memenangkan sebuah kejayaan besar. Kebudayaan (culture)menjadi instrumen paling mutakhir dalam abad 21 ketika senjata tak lagi berdengung di telinga masyarakat dunia. Keberadaan culture sebagai perangkat diplomasi dalam ruang lingkup hubungan internasional telah menjadi sebuah pembuktian baru yang bergelak perlahan tapi pasti. Adapun diplomasi kebudayaan, tulis Joseph S Nye Jr dalam buku Soft Power: the Means to Success in World Politics, merupakan perangkat untuk menebar kekuatan lunak atau soft power. Berbeda dengan hard poweryang menggunakan paksaan dalam bentuk militer atau kekuatan ekonomi, soft power menciptakan kesepahaman dan pengertian akan nilai-nilai suatu negara. Culture  telah menyediakan hidangan yang luar biasa kepada masyarakat Global ketika orang mulai merasakan kejenuhan dalam pergaulan internasional yang cenderung statis. Korea Selatan menjadi negara yang memiliki andil besar dalam proses penjamuan hidangan besar dalam hiruk pikuk permasalahan global yang sifatnya high-politics. Bergeraknya Korsel sebagai penyaji hiburan masyarakat global tentu saja telah mengundang kepedulian dan respect yang luar biasa bagi para penikmatnya yang tersebar di hampir seluruh negara di dunia. Diplomasi kebudayaan dianggap sukses, pertarungan eksistensi yang dipandang orang-orang realis yang cenderung menggunakan hard-power tidak menjadi jaminan. Kekuatan besar sedang dibangun untuk membangun koalisi besar bersama pecinta kebudayaan Korea Selatan. Proses transformasi budaya berjalan secara pasti oleh karena keberhasilan diplomasi kebudayaan, yang menurut Milton C. Cummings, seorang pengamat dari Institute for Cultural Diplomacy adalah:
“The exchange of ideas, information, values, systems, traditions, beliefs, and other aspects of culture, with the intention of fostering mutual understanding”
    Budaya adalah salah satu bentuk diplomasi yang berguna untuk membangun saling kesepahaman dengan negara asing. Di dalamnya sedang berlangsung berbagai macam aktivitas baik itu pertukaran ide, informasi, nilai, tradisi, kepercayaan,  dan aspek budaya-budaya lainnya, yang bertujuan untuk meningkatkan rasa saling mengerti satu sama lain.

  Inilah menjadi pertanyaan besar, apa sebenarnya yang membuat Korea Selatan bisa melakukan transendensi kebudayaan dengan begitu pesatnya dalam dunia global? Proses pelampauan yang sangat cepat dan baik sedang berlangsung dengan skenario besar yang teratur.
     Sebelum membahas tentang kebudayaan Korea Selatan lebih jauh, sebaiknya kita melirik terlebih dahulu makna kata Transendensi. Transendensi yang digunakan bukanlah sebagai sebuah makna terminologis filsafat yang lebih mengarah pada konsep teologi dan spiritualitas ataupun bersifat ketuhanan, namun lebih pada makna etimologi yang dalam bahsa latinnya berarti ‘naik ke atas’ atau bisa dikatakan melampaui, pelampauan.
    Perbincangan mengenai Korea pada zaman sekarang pasti akan mengarah pada satu sudut pandang yakni, Hallyu atau Korean Wave. Hallyu atau Korean Wave merupakan sebuah penamaan dari kebudayaan Korea yang berkembang pada beberapa dekade terakhir ini. Hallyu mulai digemari oleh penduduk Asia mulai sekitaran tahun 1990an terutama di China, Jepang dan beberapa kawasan Asia Tenggara. Berawal dari industri hiburan yakni K-Pop dan K-Drama yang mengawali era kebudayaan Korea di kancah internasional. Jika mengacu pada definisi M. Cummings tadi maka kemudian suksesi Korea dalam industri hiburan turut mengikutsertakan nilai, pola hidup, kehidupan sosial, sistem dan tradisi serta kepercayaan yang dianut oleh orang-orang Korea mulai dinikmati oleh masyarakat global. Proses inilah yang disebut sebagai koreanization. Bahkan hal ini juga turut membawa dampak positif bagi industri fashion, teknologi, maupun otomotif di Korea Selatan. Tingginya permintaan atas barang-barang elektronik buatan Korea di beberapa negara di dunia menjadi pembuktian atas skenario besar yang dirancang untuk menguasai peradaban manusia.
    Kebanggaan dan kepercayaan diri yang tinggi telah mengangkat derajat negara Korea dari sebuah kungkungan masa lalu yang memaksa mereka menyerah pada Cina dan Jepang. Hasrat ingin menjadi sebuah kekuatan baru di Asia dengan sedikit terinsipirasi dari Confusianisme China dan sedikit mengabaikan sensasionalisme Barat telah mendegradasi dominasi yang cenderung keras oleh dunia barat. Dengan kemasan yang lebih menarik dan indah, distorsi kebudayaan menjadikan Hallyu menjadi sesuatu yang mudah untuk diterima dan diserap. Tidak dapat dinafikan budaya Pop Korea adalah sebuah proyek globalisasi yang berusaha membangun citra positif Korea Selatan di mata Internasional sehingga menimbulkan ketertarikan dan keingintahuan lebih lanjut untuk mempelajari tentang kebudayaan Korea Selatan lebih dalam. Pencitraan memang menjadi faktor penentu suatu negara untuk mendapatkan kerpcayaan dunia internasional. Adapun pengertian pencitraan menurut Aleksius Jemadu adalah:
Upaya suatu bangsa untuk mendefinisikan dirinya baik kepada rakyatnya sendiri maupun dalam pergaulan internasional dengan menonjolkan keunggulan nilai-nilai budaya yang dimilikinya dengan tujuan untuk menciptakan pengaruh internasional yang sangat diperlukan untuk pencapaian tujuan politik luar negeri dan diplomasi secara umum.

The Rising of New Cultural Capitalism in Asia
    There is No Power without Power, Tidak akan ada sebuah kekuasaan tanpa kekuatan dibaliknya. Berdasarkan data Bank of Korea pada 2011, nilai ekspor hallyu mencapai US$794 juta. Tentu saja ada peran dan turut campur tangan negara di dalamnya sebagai aktor penentu kebijakan. Dalam diplomasi kebudayaan akan selalu ada peran negara dalam suksesi ekspansi kebudayaan negara tersebut, hal ini yang kemudian tertulis jelas dalam pengertian diplomasi kebudayaan menurut Prof. Tulus Warsito, guru besar studi hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Usaha suatu negara untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya, melalui dimensi kebudayaan, baik itu secara mikro, seperti pendidikan, olahraga, ilmu pengetahuan dan juga kesenian, ataupun secara makro seperti propaganda, dan lain-lain, yang dalam pengertian konvensional dapat dianggap sebagai bukan politik, ekonomi ataupun militer.
    Jalan Korea Selatan untuk memasuki dan menguasai peradaban manusia melalui diplomasi kebudayaan didukung sepenuhnya oleh berbagai elemen masyarakat Korea Selatan sebagai pembuktian diri. Jika pada akhirnya akan melibatkan aktor non-negara dalam proses diplomasi maka bisa disimpulkan bahwa proyek globalisasi ini cenderung bersifat multi-track diplomacy, adalah diplomasi multipelaku, yaitu dengan banyak cara dan jalur, tidak hanya mengandalkan aktor negara (Pemerintah) secara langsung akan tetapi dapat pula dilakukan oleh aktor non-negara, seperti pelaku bisnis industri musik K-pop hingga keterlibatan para selebritis ataupun masyarakat secara umum serta media dalam menjalankan soft diplomacy melalui K-pop di berbagai negara. Memang tidak bisa dipungkiri, hadirnya industri-industri besar di balik panggung kesuksesan Korsel menjadi perpanjangan tangan pemerintah. Berbagai macam dukungan pemerintah mengenai keberhasilan ini dilakukan berbagai macam baik itu investasi besar-besaran dalam industri hiburan, promosi, maupun kebijakan pemerintah yang pro industrialisasi kebudayaan.
    Berdasarkan “Cultural Industry White Paper 2003” yang diterbitkan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Korea Selatan, ukuran pasar industri budaya Korea diperkirakan sekitar $ 350 miliar, yang merupakan 6,6% dari GDP Korea. Jumlah orang yang diharapkan untuk terlibat dalam industri budaya di Korea ini berkembang pesat dan diperkirakan akan mencapai 200.000 orang pada tahun 2008, pada saat yang bersamaan diharapkan nilai barang yang diekspor budaya akan mencapai satu miliar dolar AS. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Lee Chang-dong, menyatakan bahwa Korea harus terlebih dahulu membangun infrastruktur budaya yang lebih kuat untuk mendapatkan bagian yang lebih besar dari $ 1,4 Triliun di industri budaya global. Federasi Industri Korea juga menekankan perlunya bagi para pengusaha untuk terlibat dalam proyek bisnis kebudayaan tersebut.
    Bahkan Norimitsu Onishi, seorang koresponden New York Times melaporkan bahwa sekitar 80 persen dari wisatawan Taiwan ke Korea Selatan memilih televisi bertema wisata, mengunjungi tempat-tempat di mana drama favorit mereka difilmkan (New York Times, 28 Juni 2005).
Pada tanggal 9 Mei 2012 langkah bijak dilakukan pemerintah Korsel dalam memperbaiki sistem industri hiburan dalam negerinya dengan keturutsertaan pemerintah melalui Kementrian budaya, Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan dalam kasus agensi entertainment palsu yang muncul, menipu para pemuda/i yang bermaksud mewujudkan mimpi mereka. Kementrian akan bekerja sama dengan Asosiasi Managemen Entertainment Korea untuk membuat sebuah databse yang berisikan informasi dasar agensi-agensi seperti jumlah staf dan public figure yang mereka kelola. Agensi-agensi harus memasukkan bukti yang membuktikan bahwa mereka memiliki aset yang cocok untuk menjalankan bisnis ini bersama dengan sebuah gedung kantor yang didaftarkan atas nama mereka.
    Berdasarkan Laporan penelitian dari Samsung Economic Research Institute (2005) mengenai dampak ekonomi dari Korean Wave yang berjudul "The Korean Wave Sweeps the Globe," mengklasifikasikan laporan negara-negara yang mengimpor budaya pop Korea menjadi empat tahap, dalam hal pola mereka mengkonsumsi produk budaya Korea. Tahap pertama adalah hanya menikmati budaya pop Korea, dan ini diterapkan di Mesir, Meksiko dan Rusia. Tahap kedua melibatkan membeli produk-produk terkait yang berkaitan dengan K-Pop dan K-Drama seperti poster, items-character, dan wisata yang pada umumnya terjadi di Jepang, Taiwan, dan Hong Kong. Tahap ketiga adalah tahap konsumsi segala produk "Made in Korea" yakni China dan Vietnam. Tahap akhir mencerminkan perkembangan preferensi umum untuk budaya Korea itu sendiri. Menurut laporan itu, tidak ada negara-negara yang termasuk dalam kategori ini. Laporan ini mendesak pengembangan tinggi "konten" kualitas dengan lebih memperhatikan "strategi pemasaran," seperti "pengembangan konten."
    Bisa kita bayangkan Jika Korean Wave terus melonjak maka akan mencerminkan hubungan diplomatik yang mendukung logika kapitalis daripada penguatan kekuatan komunikatif masyarakat sipil untuk memberikan kemungkinan diversifikasi selera budaya massa. Hal ini tentu saja menjadi sebuah perlawanan keras terhadap etnosentrisme China dan nasionalisme Jepang yang selalu menjadi poros terdepan kemajuan Asia Timur. Saat ini, sulit untuk menggambarkan kritik keras terhadap Korean Wave, yang digembar-gemborkan sebagai “The Beat of Victory”. Korean Wave bukan hanya sebuah fenomena domestik saja namun telah menjadi the phenomenon of capitalism’s rise in Asia yang mengancam industri negara-negara tetangganya seperti China dan Jepang.

Korean Wave and Korean War.
    Jika berbicara lebih lanjut mengenai Korea secara historis, maka kita akan dihadapkan pada suatu proses romantisme menarik yang saat ini masih menjadi sengketa dan problematika Internasional yakni Korean War. Perang fisik di teluk Korea berlangsung cukup lama sejak dari 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953, yang hingga kini sengketa kedua negara masih berlanjut namun belum mengarah pada pertempuran fisik lagi. Jika dijelaskan tentang periode perang yang berlansung akan membutuhkan banyak abjad untuk bercerita baik itu mengenai pertempuran Incheon, Proxy War, Pertempuran Chosin, dan seterusnya. Kita hanya menarik satu sudut pandang menarik yang coba dijabarkan mengenai korelasi antara Korean War dan Korean Wave. Akan ada beberapa penjabaran yang cukup menarik tentang sebuah implikasi perkembangan Korean Wave terhadap Korean War.

1. Global mass is a great weapon
    Korean Wave sebagai sebuah proses yang lahir dari konsep diplomasi kebudayaan tidak hanya mendatangkan banyak materi. Korean Wave menjadi sebuah pertunjukkan teatrikal menarik saat di panggung dunia, industrialisasi kebudayaan yang berujung pada konsep kapitalisme budaya menjadikannya sebagai global mass consumption. Masyarakat dunia akan lebih memfokuskan diri pada perkembangan K-Pop. Bagaimana tidak, tokoh atau artis yang mengidolakan seakan telah menjadikan mereka budak ketika di hadapkan pada pusara industri hiburan. Simpati dan kepedulian berdatangan secara massal saat fanatisme menjadi sebuah dogma yang menggerakkan pola kehidupan masyarakat global. Tidak dipungkiri bahwa fanatisme yang cenderung hiperbolik inilah yang nantinya menjadi kekuatan terbesar Korea Selatan menghadapi kemungkinan yang terjadi dengan Korea Utara. Aliansi massa global yang terbentuk atas dasar fanatisme yang sama menjadi kekuatan terbesar. Jika saja Perang Korea kembali terjadi, maka akan terjadi gejolak di beberapa negara yang masyarakatnya kebanyakan sangat mengidolakan artis-artis Korsel. Adanya wajib militer yang diharuskan pemerintah Korsel terhadap laki-laki mewajibkan setiap orang termasuk artis dalam pertempuran yang terjadi nanti. Demonstrasi bisa saja terjadi di beberapa negara yang dilakukan oleh para fans. Kekuatan massa tentu saja bisa mengubah kebijakan negara hingga bahkan mengeluarkan keputusan untuk membantu Korsel dalam perang. Bisa dikatakan kekuatan para fans budaya Korea Selatan menjadi aset penting dalam proses pengambilan arah kebijakan suatu negara. Jika sudah pada titik fanatisme yang sangat tinggi, simpati bergerak sangat cepat, mereka tidak ingin kehilangan sebuah genre hiburan yang membuat mereka lebih baik dan nyaman.
2. The Circle of Capitalism, merebut simpati Cina.
     Lingkaran kapitalisme akan selalu terjaga sebagai sebuah keutuhan untuk bisa saling menguntungkan. Jika ada satu bagian yang hilang, maka lingkaran itu akan berubah dan berdampak buruk bagi yang lainnya. Korea Selatan yang telah menjadi negara demokrasi telah melangsungkan aktivitas kapitalisme besar dalam hal kebudayaan, teknologi maupun otomotif. Kita melihat negarqa-negara yang menitikberatkan pada kapitalisme pasar seperti Cina, Jepang dan Amerika Serikat tentu saja tidak ingin kehilangan kesempatan dalam memperoleh keuntungan. Cina yang secara ideologi lebih condong kepada Komunis yang juga dianut oleh Korea Utara masih mempertahankan sistem nilai tersebut dalam proses bermasyarakat, namun di sisi lain Cina pun mengamini kapitalisme dan liberalisme pasar menjadi jalan terbaik untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri. Orang akan berpikir bahwa kepentingan China di Korea Utara cukup besar, namun kita tidak bisa mengabaikan seberapa kuatnya hubungan China dengan Korea Selatan. Korean Wave memang telah tersebar di hampir seluruh kawasan Asia namun kesuksesan terbesarnya ada di negara Cina. Cina dianggap sebagai negara paling sukses untuk proses persebaran Korean Wave. Menurut sebuah artikel di media massa Korea menyebutkan bahwa Orang Cina merasa lebih dekat budaya Korea berkat budaya pop korea gaya K-Pop nya,  meskipun jika mereka belum pernah ke negara. Selain itu, artikel lain mengatakan bahwa Republik Korea (ROK) dan Cina telah mempererat hubungan kerjasama mereka di bidang politik, ekonomi, budaya dan pendidikan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut statistik resmi yang dipublikasikan ROK pada akhir tahun lalu, Cina menjadi peringkat nomor satu dalam perdagangan tahunan negeri Korea. ROK juga menjadi mitra dagang eksklusif terbesar ketiga China. Kerjasama politik dan ekonomi telah menyebabkan pertukaran warga dan lalu lintas wisata antara kedua negara. Perkembangan Korean Wave di Cina meerupakan pertanda akan masa depan yang cerah bagi hubungan bilateral Cina dan Korea. Karena permintaan yang luar biasa dari budaya pop Korea di Cina, Korea berhasil memasuki pangsa pasar yang besar.
    Cina yang dianggap sebagai tameng terkuat bagi Korea Utara belum menjamin adanya bantuan untuk Korut jika perang berlangsung. Negara sebagai Rational Actor akan cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan. Rational choice menjadi sebuah pertimbangan dan mungkin saja akan mengubah segala kemungkinan yang seharusnya terjadi.

Pustaka:
http://mediaindonesia.com/webtorial/tanahair/?bar_id=MzA2Nzkx
http://dwialatief.blogspot.com/2012/03/hallyu-korea-sebagai-diplomasi.html
http://sosbud.kompasiana.com/2012/08/08/diplomasi-budaya-dalam-menciptakan-perdamaian-dunia/
http://kpopfreak.com/2012/10/news/pemerintah-korea-ikut-campur-tangan-untuk-mencegah-para-agensi-entertainment-dalam-menipu-para-trainee-nya
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2184313-pengertian-transendensi/
http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Korea#Akhir_perang
Joseph Nye, 2005, Soft Power: the Means to Success in World Politics cetak indonesia, United States : PublicAffairs
Tulus warsito dan Wahyuni Kartikasari, 2007, Diplomasi Kebudayaan Konsep dan Relevansi Bagi Negara Berkembang; Sudi Kasus Indonesia, Yogyakarta: Ombak
Cho Hae Jong, Reading the “Korean Wave” as a Sign of Global Shift
Sue Jin Lee, The Korean Wave: The Seoul of Asia

Posted by Unknown On 1/04/2013 01:31:00 AM

Kemarin ibuku menemu rindu, 
di serpihan-serpihan waktu yang telah berdebu. 
Aku bermain gundu, 
Ibu memelukku dengan syahdu. 
Hujan menetes dari sudut matanya yang sayu, 
aku jatuh di pelukan Ibu.

-Rindu Ibu, Alfian Putra Pikoli,-
Posted by Unknown On 1/04/2013 01:25:00 AM

PELUH, Petani tak kenal Keluh

Kisah seberang di pematang ladang,
meniduri petang yang menemukan terang.
Dia replika cakrawala, penunggu nusantara.
Pemusik yang memetik awan menjadi simfoni yang bersendawa.

Tak pernah mati, jika nyalinya masih berdiri.
Tangis yang meringis dan keringat yang bersyafa'at.

Bukanlah Punggawa pandai bersandiwara,
Tak jua Jawara senyum tertawa,
Lebam di sengat matahari,
Tenggelam dalam lumpur kali,
Dua tangan merengkuh dahaga,
Merangkul lapar si perjaka manja.

Ladang, adalah medan berperang.
Bukan kasta tirani, kursi para kurcaci.
Dia......
SAUDAGAR, Sarjana Ilmu Dahaga dan Lapar.

                      ------
Alfian Putra Pikoli
Jogja 1-1-2013

Jumat, 06 April 2012

Posted by Unknown On 4/06/2012 09:26:00 PM
Aryan El Haytham
Think Globally, Act Locally


 Isu Global Warming dan Climate Change bukan lagi sekedar isapan jempol belaka, tapi sudah menunjukan bentuk & wujud yang sebenarnya kehadapan umat manusia di bumi dengan semakin tidak nyamannya bumi sebagai tempat tinggal ataupun hunian makhluk hidup. Berbagai fenomena alam yang cenderung mengalami penyimpangan (anomali) akhir-akhir ini seperti iklim yang kacau, panas yang Ekstrim berkepanjangan, intensitas curah hujan yang kelewat tinggi diluar normal, banjir, angin ribut, puting beliung, banyak dikaitkan dengan isu pemanasan global tersebut.

Selasa, 20 Maret 2012

Posted by Unknown On 3/20/2012 12:07:00 PM
-Aryan El Haytham-
It's popular now to talk about replacing dominator models for relationship with partnership models. But in the early 70's in Berkeley the language of women's liberation was in vogue. The meaning, however, is pretty much the same. We must recognize that in patriarchal culture, women are the underclass. We are the indigenous people within, inside of, Western civilization. In my 20's I was mainly aware of how women -- and men -- were suffering as a result of the second class status of women in our society. And I was angry. Now I am able to see beyond the suffering, to the value, the good fortune in this.

Senin, 16 Januari 2012

Posted by Unknown On 1/16/2012 12:53:00 PM
Regulatory State oleh Kanishka Jayasuriya
Fokus dari New regulatory State (NRS) adalah outcomes atau produk kebijakan yang dihasilkan oleh negara. Specifically explaining two models in making policy, yaitu model atribut dan relitional. Model atribut menekankan transformasi kapasitas proses pembuatan kebijakan yang efisiens yang melibatkan actor-actor governance termasuk yang berada di luar garis batas Negara. Hal ini menekankan pentingnya pengaruh institusi politik beyond negara dalam proses kebijakan, ang terrefleksikan dalam multi layer governance (MLG). MLG sendiri merupakan alternative atas model westphalian, yang menarik garis batas secara tegas antara domestic dan internasional. European union (EU) dalam kaitanini merupakan model utama dari sistem politik beyond state yang berwujud multi layer of governance.
Adanya perubahan karakter Negara dari Dari Development State ke Regulatory State. Bukan berarti otoritas dan batas-batas negara telah hilang atau melemah, melainkan sedang mengalami perubahan, yakni dari negara pembangunan menjadi negara yang serba diatur. Faktor utama yang menyebabkan perubahan ini terjadi adalah globalisasi (Jayasuriya 2000:37). Argumentasi teoretisnya (Jayasuriya 2000:37-38): bentuk-bentuk negara pada dasarnya bergantung pada berbagai struktur aspek kepemerintahan (governance) global. Negara pembangunan, demikian pula negara kesejahteraan (welfare state) Eropa Barat pada dasarnya merupakan produk dari sistem kepemerintahan (pasar) global posta Perang Dunia II. Sistem kepemerintahan inilah yang mutlak berubah dan membawa perubahan yang sesuai dalam bentuk kepemerintahan dalam negeri suatu bangsa. Indikasi terjadinya perubahan dari negara pembangunan ke negara yang serba diatur adalah hilangnya ciri-ciri yang melekat pada negara pembangunan. Ada tiga ciri yang melekat pada pembangunan, yakni: (1) sejumlah lembaga perekonomian yang tesendiri dan otonom dengan kemampuan besar untuk melaksanakan kebijakan dan program ekonomi; (2) suatu kebijakan industri aktif yang mengembangkan industri global berorientasi ekspor yang bersaing; dan (3) suatu pemahaman tentang kempemerintahan (governance) yang menempatkan tekanan kuat pada peran negara untuk mengamankan pembangunan dan perekonomian . Ciri-ciri tersebut merupakan bentukan rejim kepemerintahan global yang dicirikan oleh pembatasan mobilitas modal dan regulasi sektor keuangan dalam negeri (Jayasuriya 2000:38).

Strucural Power oleh Susan Strange.
“Structural power is the power to shape and determine the structure of global political economy within with other states, their political institution, their economic enterprices and (not least) their scientists and other professional people have to operate”. 6 “Rather more than the power to shape the agenda of discussion or to design the international regimes of roles and customs that are supposed to govern international economic relation”.
1. The Security Structure
“Is the frame work of power created by the provision of security by some human being others”.8 Protektor (aktor) yang memberikan jaminan keamanan memperoleh kekuasaan tertentu yang menyebabkan mereka mampu untuk menentukan bahkan membatasi pilihan atau memilih pilihan yang disediakan untuk aktor lainnya (pengguna jasa). Dengan menggunakan kekuatan Security Structure, penjamin -protektor- secara langsung akan memperoleh keuntungan-keuntungan tertentu dalam proses produksi atau konsumsi atas kesejahteraan kekayaan dan hak-hak istimewa dalam interaksi sosialnya. Dengan demikian, Security Structure adalah akibat yang tak terelakkan dari proses siapa mendapatkan apa –who-gets-what- dalam kegiatanekonomi.
2. The Production Structure.
“As the sun of the arrangement determining what is produce, by whom, and for whom, by what method and on what term”. Dalam dua abad terakhir telah terjadi dua perubahan besar pada struktur produksi yang ada. Hal yang penting untuk dimengerti dari kejadian tersebut adalah mengenai mengapa hal tersebut bisa terjadi dan apa konsekuensi-konsekuensi yang menyertainya, dalam hal ini adalah konsekuensinya terhadap ekonomi politik internasional. Perubahan pertama, adalah perubahan pada model Kapitalis, model yang mendominasi pembangunan ekonomi dan merupakan sandaran mesin ekonomi dunia, yang memiliki model produksi yang berorientasi pada pasar, oleh penganutnya pada saat ini, menyadari sistem dunia dimana terjadi arus jual beli barang dan jasa, memperkenankan kekuatan pemerintahlah yang selanjutnya akan mempengaruhi apa yang akan diproduksi. Sehingga proses kreatif –inovasi- dalam produk dan prosesnya, juga penggunaan modal, keduanya akan lebih menguntungkan bagi pelaku produksi mencapai tujuan tertentu dalam produk yang mereka produksi. Perubahan kedua adalah perubahan yang terjadi secara nyata dan tidak merata, akan tetapi secara nyata dan tidak dapat ditawar lagi telah menggantikan struktur produk yang keutamaannya disesuaikan untuk melayani pasar-pasar domestik –nasional-, kepada struktur produksi yang diutamakan untuk melayani pasar dunia, dengan kata lain adalah internasionalisasi produk. Fenomena ini yang dijelaskan oleh banyak. penulis –ilmuan- sebagai fenomena kebangkitan perusahaan-perusahaan multinasional (Multinational Corporation).
3. The Financial Structure
“The power to create credit implies the power to allow or to deny other people the possibility of spending today and paying back tomorrow, the power let them exercise purchasing power and thue influence markets for production, and also the power to manage or mismanage the currency in which credit is denominated, this affecting the rates of exchange with credit denominated in other currencies”. Struktur keuangan meliputi dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Struktur ini tidak hanya menyangkut struktur ekonomi politik sebagai sarana di mana kredit/pinjaman dikucurkan, tapi juga menyangkut sistem keuangan atau sistem yang menentukan harga nisbi dari mata uang yang berbeda. Dalam aspek pertama kekuasaan untuk memberikan kredit ada pada pemerintah dan bank (yang akan bergantung pada hubungan politik dan pengaturan antar keduanya). Dalam aspek kedua, nilai tukar antar mata uang yang berbeda atau arusnya ditentukan oleh kebijakan pemerintah bersangkutan dan pasar (dan lagi-lagi akan banyak bergantung pada seberapa besar pemerintah memberikan kebebasan
pada pasar). Oleh karena itu struktur keuangan dapat didefinisikan pula sebagai: “The sum of all the arrangements governing the availability of credit plus all the factors determining the terms on which currencies are exchanged for one another”.
4. The Knowledge Structure
“A knowledge structure determines what knowledge is discovered, how it is stored, and who communicates it by what means to whom and on what terms”. Kekuasaan yang berasal dari struktur ilmu pengetahuan seringkali diabaikan dan dipandang rendah. Meskipun hal ini tak kurang pentingnya dari tiga sumber kekuasaan struktural –struktural powersebelumnya. Hal ini lebih disebabkan karena struktur ilmu pengetahuan dibangun dari hal-hal yang menjadi keyakinan, berupa suatu kesimpulan moral dan prinsip-prinsip yang diperoleh dari hal-hal yang diyakini tersebut. Sarana-sarana di mana keyakinan-keyakinan, ide-ide, dan ilmu pengetahuan tersebut dikomunikasikan akan membentuk komunitas yang memiliki kesatuan pengertian, di mana proses ini kemudian akan memasukkan beberapa orang ke dalam komunitasnya dengan mengabaikan beberapa faktor orang lainnya. Dibandingkan dengan tiga sumber kekuasaan struktural sebelumnya, ilmu pengetahuan kurang dipengaruhi oleh kekuatan yang bersifat memaksa (koersif), melainkan lebih merupakan suatu proses kesepakatan. Wewenang diberikan secara sukarela atas pembagian sistem kepercayaan dan pengakuan oleh individu dan masyarakat atas fakta-fakta yang terdapat dalam ilmu pengetahuan.

Kamis, 12 Januari 2012

Posted by Unknown On 1/12/2012 09:09:00 PM
GORONTALO: HIDDEN PARADISE.
Book by Rantje Allen, William Tan, Takako Uno, and Stephen Wong.


"Three of the world's top photographers joined forces to produce the year's most memorable underwater coffee table book...Gorontalo: Hidden Paradise is clearly a labour of love...a masterpiece that would be one of the crown jewels in any book collection."

David Espinosa, Australasia Scuba Diver (issue 6 / 2006)


"...the pages of Gorontalo: Hidden Paradise go far beyond introducing portraits of the province's extensive list of endemic fishes and invertebrates. The veteran critter shooters pushed limits, merging talent with patience, to capture original images of animal behavior."

Ned DeLoach, Asian Diver (issue 90 / April-May 2007)